Oleh
: Edi Suryana, S.Pd.I
Kebanyakan
orang percaya bahwa kehidupan yang benar-benar tenteram dapat dicapai di dunia
ini. Mentalitas ini menganjurkan bahwa seseorang dapat menemukan kebahagiaan
sejati dan mendapatkan penghormatan dari orang lain melalui kekayaan.
Mentalitas serupa meyakini bahwa begitu terpenuhi, kesenangan ini akan
berlangsung hingga ke akhir dunia. Namun, kebenarannya justru berlawanan.
Manusia tidak pernah dapat mencapai hidup impiannya dengan melupakan
Penciptanya dan hari penghisaban. Hal ini karena pada saat dia mewujudkan satu
sasaran, dia mulai memikirkan yang lainnya. Tidak puas dengan banyaknya yang
diperoleh, ia menerjuni bisnis yang baru. Dia tidak merasakan kepuasan apa pun
dari flatnya yang baru begitu ia melihat rumah tetangganya yang didekor penuh
seni, atau bisa juga, karena dekorasi rumahnya adalah gaya tahun lalu, yang
sudah ketinggalan zaman, mendorong ia untuk mendekor ulang. Begitu pula, karena
gaya dan cita rasa berubah secara drastis, dia mengimpikan pakaian-pakaian yang
lebih mutakhir karena ia tidak puas dengan apa yang telah dimilikinya.
Psikologi orang yang tidak beriman dijelaskan dengan gamblang dalam ayat
berikut:
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang
Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang
banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku lapangkan baginya dengan
selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. (QS. Al
Mudatstsir, 74: 11-15)
Seseorang
yang berpikiran sehat dan berpemahaman jelas akan mengakui bahwa para pemilik
rumah besar dengan kamar yang lebih banyak dari penghuninya, mobil-mobil mewah,
atau lemari pakaian besar hanya mampu menggunakan sebagian terbatas dari harta
bendanya. Jika Anda memiliki rumah terbesar di dunia, apakah mungkin menikmati
setiap kamar pada saat bersamaan? Begitu pula, jika Anda mempunyai sebuah
lemari pakaian berisi berbagai busana yang mengikuti mode terakhir, berapa
banyak yang dapat Anda kenakan dalam sehari? Pemilik rumah besar dengan lusinan
kamar, sebagai suatu entitas yang dibatasi ruang dan waktu hanya dapat tinggal
di sebuah ruangan pada suatu waktu. Jika Anda ditawari semua makanan lezat dari
restoran terkenal, lambung Anda hanya akan menampung sedikit; jika Anda
berusaha memaksakan lebih banyak, hasilnya lebih merupakan siksaan, bukannya
kesenangan.
Daftar
ini dapat diperpanjang lagi, namun fakta yang paling mengejutkan adalah bahwa
manusia ditakdirkan hidup pada masa yang sangat terbatas untuk menikmati
kemewahan dari harta bendanya. Manusia dengan cepat menuju akhir hidupnya,
namun dia jarang sekali mengakui ini semasa hidupnya dan menganggap kekayaannya
akan memberinya kebahagiaan abadi, seperti disebutkan ayat berikut:
Dia mengira bahwa hartanya itu dapat
mengekalkannya. (QS. Al Humazah, 104: 3)
Manusia
dibutakan oleh kekuasaan hartanya sehingga ketika ia menghadapi akhir yang
menakutkan di hari penghisaban, dia masih akan berusaha melepaskan diri dari
azab dengan menawarkan hartanya:
Sedang mereka saling memandang. Orang kafir
ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan
anak-anaknya, dan istrinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang
melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian
tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka
itu adalah api yang bergolak. (QS. Al Ma'aarij, 70: 11-15)
Walau
demikian, sebagian manusia menyadari bahwa kekayaan, kemakmuran, dan harta yang
banyak berada di bawah pengawasan Allah. Dengan demikian, mereka sangat
menyadari bahwa jabatan dan status adalah hal yang menertawakan. Hanya
orang-orang inilah yang benar-benar memahami bahwa harta benda ini tidak akan
menyelamatkan mereka di hari akhir. Karena itu, mereka tidak berani memburu
barang berharga di dunia ini. Menyombongkan diri bukanlah ciri yang akan Anda
temui dari orang-orang yang sederhana seperti ini. Karena tidak pernah
melupakan keberadaan Allah Yang Mahakuasa, mereka mensyukuri apa-apa yang Dia
berikan. Sebagai balasan, Allah menjanjikan kehidupan yang terhormat dan
menyenangkan bagi mereka. Orang-orang yang memercayai Allah dan menjadikan
pengabdian kepada Allah sebagai tujuan akhir hidup mereka menyadari bahwa
mereka hanya dapat menikmati benda-benda duniawi untuk jangka waktu yang
terbatas dan bahwa benda-benda duniawi tidak sebanding dengan kelimpahan abadi
yang dijanjikan. Kekayaan tidak pernah membuat orang-orang seperti itu terikat
dengan kehidupan ini. Sebaliknya, membuat mereka semakin bersyukur dan dekat
kepada Allah. Mereka menyikapi setiap orang dan setiap masalah dengan adil, dan
mencoba, dengan apa yang telah Allah berikan, untuk mencapai keridhaan-Nya.
Bukannya mencari kesenangan dari kekayaan di dunia ini, mereka berupaya
memperoleh nilai-nilai qurani yang diharapkan dari mereka, karena benar-benar
menyadari berartinya kedudukan dan pujian di hadapan Allah. Nabi Sulaiman
memberikan teladan bagi semua orang sebagai seorang mukmin terhormat yang
menunjukkan sifat-sifat itu di dalam hidupnya. Memiliki kekayaan dan kekuasaan
yang besar, Sulaiman dengan jelas menyatakan mengapa dia mengejar kekayaan ini:
Maka ia berkata: "Sesungguhnya aku
menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai
mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan." (QS. Shaad, 38:
32)
Kegagalan
memahami mengapa harta benda duniawi di dunia ini membuat manusia melupakan
bahwa mereka hanya akan mampu menggunakan harta miliknya selama 60-70 tahun,
jika mereka ditakdirkan hidup selama itu, dan selanjutnya meninggalkan rumah,
mobil-mobil, dan anak-anak mereka. Mereka tidak memikirkan bahwa mereka akan
dikuburkan seorang diri. Sepanjang hidup mereka mendambakan kekayaan yang tak
akan pernah dapat mereka nikmati.
Namun,
mereka yang menganggap kekayaan sebagai penyelamat dan mengabaikan keberadaan
Pencipta mereka menanggungkan kesedihan yang pahit baik di dunia ini maupun di
hari akhirat.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta
benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak Allah dari mereka.
Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka. (QS. Ali 'Imran, 3: 10)
Al
Quran telah memberitakan akhir dari mereka yang menunjukkan keserakahan yang
tak pernah puas akan harta benda:
yang mengumpulkan harta dan
menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya!
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam
Huthamah, Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? Api Allah yang dinyalakan, yang
sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka)
diikat pada tiang-tiang panjang. (Surat al-Humazah, 104: 2-9)
Kekayaan
sejati dimiliki oleh orang-orang beriman yang tidak pernah menunjukkan
ketertarikan akan harta benda di dunia ini dan memercayai sebenar-benarnya
bahwa hanya Allah-lah yang memberikan segala sesuatu kepada manusia. Merekalah
sebenarnya orang-orang kaya di dunia ini; mereka tidak membatasi hidup mereka
sekadar 50-60 tahun. Orang-orang yang beriman melakukan perdagangan terbaik
yakni membeli surga dengan hidup mereka. Mereka lebih menyukai kekayaan yang
kekal dibandingkan yang sementara. Allah memberitahu kita tentang ini di dalam
ayat berikut:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. Janji
yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang
lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli
yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah,
9: 111)
Karena
mengabaikan fakta-fakta ini, mereka yang "terikat" dengan dunia ini
akan segera memahami dengan jelas siapa yang berada di jalan yang benar.
Pernikahan
Pernikahan
dianggap sebagai titik balik penting di dalam kehidupan seseorang. Setiap
pemuda atau pemudi berharap bertemu dengan idamannya. Pasangan yang baik
menjadi tujuan utama dalam hidup dan orang-orang muda nyaris
"terindoktrinasi" akan pentingnya menemukan pasangan yang baik bagi
dirinya. Namun pada dasarnya, hubungan antara pria dan wanita tidak mempunyai
landasan yang kokoh di masyarakat jahiliyah yakni masyarakat yang di mana
anggotanya tidak menerima jalan hidup yang qurani. "Persahabatan"
adalah semata hubungan romantis di mana kedua jenis kelamin mencari kepuasan
emosional. Sedangkan, pernikahan biasanya didasarkan pada keuntungan materiil
timbal balik. Banyak wanita berupaya mendapatkan "pria yang sukses"
karena mengharapkan standar kehidupan yang tinggi. Dengan tujuan semacam itu,
seorang gadis muda dapat dengan mudah menerima seorang yang tidak ia cintai
sebagai pasangan seumur hidup. Sebaliknya, yang dicari seorang pria pada
seorang wanita seringkali adalah "wajah yang cantik".
Namun
sudut pandang masyarakat jahiliyah ini mengabaikan sebuah fakta teramat
penting: semua nilai kebendaan pada akhirnya pasti tumpas. Allah dapat menarik
kembali kekayaan seseorang dengan seketika. Begitu pula, hanya perlu beberapa
detik untuk kehilangan wajah yang cantik. Misalnya, jika kita setiap hari pergi
dan pulang bekerja di kota besar, kapan saja kita dapat terkena kecelakaan yang
mungkin meninggalkan bekas luka yang tetap dan mengerikan di wajah. Sementara
itu, waktu menyebabkan kerusakan yang tak dapat diperbaiki terhadap kesehatan,
kekuatan, dan kecantikan kita. Di bawah kondisi yang tidak dapat diramalkan
seperti itu, apa konsekuensi dari sistem yang murni berlandaskan nilai-nilai
materialistik? Misalnya, bayangkan seorang pria yang menikahi seorang wanita
hanya karena dia terkesan akan parasnya yang cantik. Apa yang akan
dipikirkannya jika wajah wanita itu rusak parah karena kecelakaan? Akankah ia
meninggalkan wanita itu ketika mulai muncul keriput di wajahnya? Jawabannya
tidak diragukan akan mengungkapkan dasar pemikiran materialistik yang tidak
masuk akal.
Sebuah
pernikahan menjadi berharga tatkala dimaksudkan semata untuk mencapai keridhaan
Allah. Jika tidak, pernikahan akan menjadi beban baik di dunia ini maupun di
alam setelahnya. Jika pun tidak di dunia ini, manusia pada akhirnya akan
memahami di hari akhirat, bahwa ini bukanlah jalan yang patut bagi jiwa
manusia. Namun, saat itu sudah terlambat; pada hari penghisaban, dia akan
menjadikan istrinya, yang dekat dengannya di dunia ini, sebagai tebusan bagi
keselamatan dirinya. Kengerian pada hari itu akan membuat semua hubungan di
dunia ini kehilangan arti. Allah memberikan penuturan rinci tentang hubungan
antara anggota-anggota keluarga pada hari akhirat pada ayat berikut:
Sedang mereka saling memandang. Orang kafir
ingin kalau sekiranya dia dapat menebus dari azab hari itu dengan anak-anaknya,
dan istrinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya. (QS. Al
Ma'aarij: 11-13)
Jelaslah
dari ayat ini bahwa manusia tidak lagi akan mengikatkan kepentingan apa pun
kepada wanita, teman, saudara lelaki atau perempuan, pada hari penghisaban.
Dalam upaya mereka yang mati-matian untuk diselamatkan, setiap orang sudi
menjadikan keluarga dekat atau kerabatnya sebagai tebusan bagi keselamatan
mereka sendiri. Lebih-lebih lagi, orang-orang ini akan kutuk-mengutuk karena
mereka tidak pernah saling mengingatkan tentang akhir mengerikan seperti itu.
Di dalam Al Quran, diceritakan tentang Abu Lahab yang menerima azab
selama-lamanya di dalam neraka bersama istrinya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan
sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan
apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan
istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. Al
Lahab, 111: 1-5)
Jenis
pernikahan yang diterima Allah adalah yang didasarkan pada kriteria yang sama
sekali berbeda. Berlawanan dengan pernikahan yang lazim di masyarakat jahiliyah,
di mana orang-orang tidak mengindahkan akan memperoleh keridhaan Allah,
kriterianya bukanlah uang, ketenaran, atau kecantikan, namun sebuah pernikahan
ditujukan untuk mencapai keridhaan Allah. Bagi orang-orang mukmin, satu-satunya
kriteria adalah ketakwaan, yakni 'menjauhi segala yang dilarang, melakukan
segala yang disuruh, dan takut kepada Allah. Begitu pula, seorang mukmin hanya
dapat menikahi seseorang yang menunjukkan ketaatan yang penuh kepada Allah.
Orang-orang mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan di dalam pernikahan ini.
Berikut adalah ayat yang bersangkut paut dengan ini:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Ruum, 30: 21)
Dengan
ketakwaan sebagai ikatan satu-satunya, orang-orang mukmin pastilah akan
memperoleh kehidupan yang menyenangkan di Hari Akhirat. Tatkala mereka saling
memperingatkan akan kebajikan dan saling membimbing ke surga sepanjang hidup
mereka, mereka juga akan menjadi teman dekat selamanya. Hubungan mereka adalah
seperti yang digambarkan berikut ini:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka
menyuruh yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan
zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat
oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. At-Taubah,
9: 71)
Anak-Anak
Sebuah
ambisi terbesar manusia adalah meninggalkan anak-anak yang akan membawa nama
keluarga ke masa mendatang. Namun, jika tidak dimaksudkan untuk mencari ridha
Allah, ambisi ini mungkin saja menjadi faktor yang menjauhkan manusia dari
jalan Allah. Seorang diuji dengan anak-anaknya; dalam artian, ia diharapkan
untuk memperlakukan mereka dengan cara yang dapat meraih ridha Allah.
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah
cobaan, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Ath-Thaghabun, 64: 15)
Dalam
ayat tersebut, penggunaan kata 'ujian' sangat penting. Bagi banyak orang,
mempunyai keturunan adalah salah satu tujuan terpenting dalam hidup. Namun, di
dalam logika Qurani, seorang mukmin menginginkan keturunan untuk memperoleh
keridhaan Allah semata. Sebaliknya, jika hanya demi memuaskan keinginan
seseorang akan keturunan, mempunyai anak hanya akan bermakna menyekutukan
Allah. Contoh dari mereka yang melupakan tujuan mereka yang sebenarnya dan
menjadikan anak-anak mereka sebagai "tujuan akhir dalam kehidupan"
diberikan di dalam Al Quran:
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang
satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang
kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang
ringan, dan teruslah dia merasa ringan. Kemudian tatkala dia merasa berat,
keduanya bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya
jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang
yang bersyukur." Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang
sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah
dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang
mereka persekutukan. Apakah mereka mempersekutukan berhala-berhala yang tak
dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan
orang. (QS. Al A'raaf, 7:189-191)
Orang-orang
mukmin memohon keturunan dari Allah hanya untuk keridhaan-Nya. Tatkala memohon
keturunan, para nabi di dalam Al Quran hanya bermaksud untuk memperoleh
keridhaan Allah. Contohnya adalah istri 'Imran:
Ketika isteri 'Imran berkata: "Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku
menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat. Karena itu terimalah itu dari padaku.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Ali
'Imran, 3: 35)
Doa
nabi Ibrahim, juga memberikan teladan kepada semua orang mukmin:
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang
yang tunduk patuh kepada Engkau dan di antara anak cucu kami umat yang tunduk
patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat
ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqarah, 2: 128)
Di
dalam ayat tersebut, diungkapkan bahwa mempunyai anak, jika dimaksudkan untuk
mencari keridhaan Allah, adalah suatu ibadah kepada Allah. Namun, jika tujuan
sebenarnya adalah selain dari mencari rahmat Allah, maka manusia dapat ditimpa
konsekuensi yang menyedihkan baik di dunia ini maupun di akhirat. Orang-orang
mukmin memahami anak-anak mereka sebagai pribadi yang dipercayakan Allah kepada
mereka. Oleh karena itu, mereka tidak menyombongkan diri atas rupa, sukses,
atau kecerdasan anak-anak mereka, karena mengetahui bahwa Allah yang memberikan
hal-hal itu kepada mereka. Kesombongan seperti itu adalah perilaku yang sesat.
Pendekatan
semacam itu punya konsekuensi yang pedih di hari akhirat. Pada hari
penghisaban, seorang manusia akan sudi menjadikan anak, istri, dan anggota
keluarganya sebagai tebusan bagi keselamatan abadi. Hasrat seseorang untuk
menghindari azab yang mengerikan membuatnya seketika meninggalkan orang-orang
yang dicintainya. Namun, pada hari penghisaban tidak akan ada harapan untuk
melepaskan diri dari siksaan abadi dengan cara itu.
Bagi
masyarakat jahiliyah, anak-anak menjadi sumber banyak masalah tidak saja di
hari akhirat tetapi juga di dunia ini. Sejak saat kelahiran, mendidik anak
membawa tanggung jawab yang membebani bagi orang tua. Pengalaman sulit terutama
dialami ibu hamil. Pertama, semenjak hari dia menerima berita kehadiran bayi,
dia harus mengubah gaya hidup secara total. Dia harus menata ulang
prioritas-prioritasnya. Dalam hal ini kebutuhan-kebutuhan bayi di rahimnya
harus diutamakan; kebiasaan makannya, cara tidurnya, singkatnya keseluruhan
kehidupan pribadinya berubah sama sekali. Menjelang akhir kehamilan, melakukan
pekerjaan sehari-hari dan gerakan tubuh yang paling mudah pun nyaris tidak
mungkin bagi si ibu. Namun, kesulitan utama dimulai setelah kelahiran. Si ibu
menghabiskan harinya mengurus bayi. Si bayi biasanya hanya memberikan sedikit
waktu bagi ibunya untuk berbagai kebutuhan dan tugas pribadinya. Karenanya, si
ibu menanti-nantikan bayinya cukup besar untuk mengurus diri sendiri. Sementara
itu, si ibu tidak menyadari betapa cepatnya tahun-tahun berlalu. Jika tidak
dilakukan untuk keridhaan Allah, waktu yang begitu panjang bisa dianggap
sebagai suatu ibadah. Namun, bagi anggota masyarakat jahiliyah, tahun-tahun ini
tidak lebih dari kesulitan yang tak ada ujungnya.
Para
orang tua dalam masyarakat jahiliyah biasanya merasa kecewa ketika membina
keluarganya. Karena dibesarkan sebagai anggota dari masyarakat yang jahiliyah,
anak-anak akan mengembangkan suatu kepribadian yang egois. Di bawah tuntunan
berbagai dorongan dan motif yang egois, dia menunjukkan minat terhadap
kebutuhan orang tuanya hanya jika hal itu menguntungkan dirinya. Orang tuanya,
sekarang sudah renta dan mengalami masalah-masalah ketuaan, hanya memahami
fakta ini di akhir hidupnya. Sebenarnya, di tahun-tahun awal menjadi orang tua,
mereka membayangkan bahwa ketika dewasa, anak-anak akan menjadi penopang utama
mereka di kala kesulitan yang tak terduga. Akan tetapi sebaliknya dari harapan
ini, mereka barangkali menemukan diri mereka di rumah jompo.
Di
dalam Al Quran, Allah menempatkan manusia di dalam sebuah bingkai, di mana
orang mukmin harus berlaku penuh tanggung jawab terhadap orang tua mereka.
Allah mewajibkan menghormati dan mengasihi orang tua, terutama di usia tua:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu
jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya
sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al Isra', 17: 23-24)
Sebagaimana
kita pahami dari ayat tersebut, mendidik seorang anak di bawah naungan nilai
qurani adalah sesuatu yang mulia bagi orang-orang mukmin. Sedangkan, jika
orang-orang tidak beriman yang memaksakan mentalitas dari masyarakat jahiliyah
kepada anak-anak mereka, maka mereka hanya akan mendapatkan kegagalan baik di
dunia ini maupun di akhirat. Adapun orang-orang beriman, mereka tetap
mendapatkan keridhaan Allah walaupun si anak tidak mengikuti ajaran Qurani yang
mereka berikan. Orang tua hanya bertanggung jawab untuk mengajarkan nilai-nilai
qurani dan mempercayakan kepada Allah. Manusia tidak memiliki pelindung dan
penolong selain Dia.
Setiap orang dari mereka pada hari itu
mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (QS. 'Abasa, 80: 37)
Sebagaimana
telah disebutkan sebelumnya, manusia hanyalah diciptakan untuk mengabdi kepada
Penciptanya. Segala sesuatu di sekitarnya, seluruh kehidupannya adalah semata
untuk mengujinya. Setelah kematian, seseorang hanya akan dihisab menurut
amalnya. Sebagai ganjaran bagi amalnya, dia akan dimasukkan ke dalam surga atau
disiksa di dalam neraka. Pendeknya, kekayaan, kecantikan, atau anak-anak
tidaklah bermanfaat, tetapi ketakwaan, "rasa takut terhadap Allah",
itulah yang bermanfaat.
Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan
(pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal. (QS. Saba ', 34: 37)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik
harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak azab
Allah dari mereka sedikitpun. Dan mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal
di dalamnya. (QS. Ali 'Imran, 3: 116)
Harta benda dan anak-anak mereka tiada
berguna sedikit pun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah
penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Mujadilah, 58: 17)
Wallahu’alam
bi showab
0 Komentar