Oleh: Agus Taufik, S.I.P.
Rasulullah bersabda: “Man tasabbaha biqaumin fahuwa minhum” Barang siapa meniru-niru perbuatan suatu kaum maka dia termasuk didalamnya.
Hadis
di atas benar-benar pas untuk mengingatkan kepada kaum muslimin yang
terkadang sudah tidak bisa lagi membedakan antara perbuatan kuffar dan
yang sesuai syar’i. Terlebih lagi bagi generasi muda kita yang hanyut
dalam lingkaran globalisasi yang menghempaskan baju moralitas dan
nilai-nilai keagamaannya.
Inilah
sebenarnya yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam, dimana umat Islam
tetap beragama Islam tetapi dalam praktek kehidupan sehari-hari mereka
cenderung tidak Islami alias sudah terkooptasi dengan budaya kuffar atau
budaya barat.
- Kalender
Tanpa
kita sadari ternyata kita telah mengikuti kalender budaya pagan yang
jelas-jelas sesat. Mengapa kita tidak membiasakan diri untuk menggunakan
kalender hijriyah yang jelas-jelas dihasilkan oleh consensus para
sahabat Rasul.
- Ulang Tahun
Ulang
tahun kita, anak-anak kita sering dengan perayaan, tiup lilin, nyanyi
yang itu jelas-jelas mengadopsi budaya kaum Nasrani.
- Pakaian
Hal
inilah yang cukup memprihatinkan. Anak-anak muda muslim cenderung malu
untuk memakai baju muslim yang menutup aurat. Mereka mengorbankan
keyakinan agamanya demi mode yang terkadang jauh dari nilai moralitas
maupun nilai Islam.
- Perayaan Valentine
Perayaan
yang sudah mendarah daging di kalangan anak muda. Hari Kasih Sayang
yang sebenarnya jika kita telusuri sejarahnya maka kita akan mengelus
dada seraya beristighfar. Santa Valentine seorang tokoh yang sebenarnya
nilai-nilai luhurnya masih dipertanyakan dalam sejarah, tapi kini
disanjung-sanjung, bahkan jenazahnya dipeti emaskan dan diziarahi kaum
Nasrani.
- Perilaku Makan
Tanpa kita sadari dalam makan dan minum kita telah memperturutkan gaya hidup tanpa mempertimbangkan darimana makanan dan minuman itu berasal.
- Televisi
Kita
tidak sadar kalau kehadiran barang satu ini telah mengakibatkan
perubahan pada perilaku kita, anak kita dan juga perubahan pola pikir
kita. Kita dan anak-anak kita menjadi malas untuk membaca buku, mengkaji
ilmu agama hanya karena tontonan yang disuguhkan didepan mata kita.
Bahkan survey membuktikan bahwa pengaruh tayangan kekerasan TV terhadap
anak sangat signifikan.
Christian
Science Monitor (CSM) Amerika pada tahun 1996 melakukan survey terhadap
orang tua yang mempunyai anak usia 2-17 tahun hasilnya; 56 % sangat
mempengaruhi, 26 % mempengaruhi, 5 % cukup mempengaruhi, 11 % tidak
mempengaruhi.
Demikian
beberapa hal yang mungkin intensitas imitasi kita paling tinggi
terhadap kebiasaan kaum kuffar. Kalau kita mau mengerti dan menyadari
bahwa kaum kuffar akan senantiasa menghancurkan Islam dengan cara halus
dan tanpa kita sadari karena mereka selalu ingat akan kekalahan pada
masa Perang Salib, sehingga mereka tidak akan terang-terangan menghantam
Islam secara frontal. Mereka meminjam kata teroris, Jamaah islamiyah
dan berbagai gerakan yang sebenarnya adalah scenario dari mereka
sendiri. Sejak dari Snouck Horgronye sampai dengan Sydney Jones adalah
orang-orang yang sengaja ditanam untuk mengobok-ngobok umat ini. Tinggal
bagaimana kita menyikapi semua ini. Akankah kita hancur dan kalah tanpa
melakukan perlawanan sedikitpun? Wallahua’lam.
0 Komentar